bener koran TAHUN INVESTASI ok (1) - Copy banner-kpu
ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Lurah Taas : Mari Bangun Kesadaran Untuk Mencintai Alam

Bagikan Artikel Ini:
Stevanus Dede Mangoting,SIP (Lurah Taas Kecamatan Tikala Kota Manado)

ARUSUTARA.COM, MANADO – Bulan Maret 2017, sepertinya merupakan bulan bencana bagi Provinsi Sulawesi Utara. Setelah Kota Bitung, Tomohon, dan Kabupaten Minahasa, Kota Manado yang merupakan Ibukota Propinsi, tak luput pula dari terjangan banjir.

Akibatnya, ribuan rumah warga di beberapa wilayah Kecamatan, terendam air dan menyebabkan banyak kerugian yang belum dapat ditaksir.

Sebelumnya awal Januari 2017 lalu, banjir juga melanda Kota Manado akibat luapan DAS Tondano dan sistem drainase kota yang buruk, diperparah dengan kebiasaan warga membuang sampah terutama berbahan plastik secara sembarangan, termasuk membuangnya ke  got hingga membuat sistem drainase mampet akibat tumpukan sampah plastik.

Sudah menjadi sebuah kekhawatiran bagi warga Manado, setiap kali hujan turun dengan durasi lama, warga mulai was-was karena tahu, banjir pasti bakal datang.

Senin 20 maret 2017, mulai siang hingga sore hari, di beberapa wilayah Kelurahan dan Kecamatan di Kota Manado, banjir akhirnya merendam ribuan rumah warga.

Bencana ini ikut menyebabkan arus kendaraan tak bergerak. Mulai dari arah Kairagi hingga pusat kota, demikian pula di ruas jalan Ahmad Yani, Sario, Kembang, dan jalan Bethesda, tak luput dari banjir karena air meluap dari drainase yang tersendat sampah lalu meluber ke jalan raya.

Tak hanya banjir saja, namun bencana longsor juga terjadi  di Kelurahan Ranomuut Kecamatan Paal Dua, meski belum ada laporan  korban jiwa dari bencana longsor tersebut.

Hal yang mengagetkan adalah banjir juga merambah Kelurahan Bumi Nyiur-Pakowa. Padahal wilayah tersebut bukan langganan banjir. Namun tahun ini, tercatat hampir 200 rumah warga terendam banjir.

Sempat menarik perhatian, saat peristiwa banjir ini terjadi, atau puncaknya pada siang hari, Senin 20 Maret 2017, seorang ASN (Aparatur Sipil Negara) masih berpakaian dinas, nampak “bermain-main” dengan air. Berperawakan tubuh yang inggi dan agak tambun, ASN ini terlihat sibuk memantau dan mengidentifikasi rumah warga yang terkena banjir. Tak itu saja, lelaki berpakaian ASN ini ikut terlibat melakukan evakuasi. Baju keki yang dikenakannya basah. Air merendam setengah tubuhnya.

Dia adalah Stevanus Dede Mangoting,SIP. Lurah Taas Kecamatan Tikala yang mengaku prihatin dengan bencana banjir yang menimpa warganya.

“Kita semua harus sadar kenapa peristiwa ini terjadi. Tidak usah saling menyalahkan atau saling tuding siapa yang merusak alam, lingkungan, atau yang paling bertanggung-jawab atas peristiwa ini,” katanya kepada awak media.

“Satu hal yang jelas dan patut kita sadari bersama adalah, telah terjadi ketidakharmonisan dan ketidak-selarasan hubungan antara manusia dengan alam dan lingkungannya. Kalau alam atau lingkungan tempat kita hidup rusak, maka kitalah juga yang akan menderita menanggung akibatnya,” kata Stevanus yang akrab disapa Dede oleh teman-teman Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) dan KPA (Komunitas Pecinta Alama) di Manado.

Lebih lanjut Stevanus yang diketahui pula merupakan aktivis Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Avestaria FISIP Universitas Sam Ratulangi Manado ketika masih di bangku kuliah, dan masih tercatat pula sebagai Anggota Kehormatan (Anggota Alumni Mapala Avestaria FISIP Unsrat Manado) sampai sekrang ini (Keanggotaan Mapala Avestaria adalah seumur hidup), menghimbau agar semua elemen masyarakat sama-sama membangun kesadaran akan tanggung jawab untuk terus menjaga dan merawat alam sebagai tanggung jawab komunal.

“Kita hidup tidak sendirian di dunia ini. Jadi marilah bersama-sama terus menjaga dan merawat alam beserta lingkungan tempat kita hidup dan tinggal. Mari kita bangun kesadaran untuk mencintai alam. Ini dapat kita mulai dari lingkungan dan keluarga kita sendiri. Yang terkecil adalah, tidak membuang sampah sembarangan. Marilah kita hidup dengan penuh cinta, yakni cinta akan sesama dan  cinta akan alam,” himbaunya.

Diakhir pertemuan, Lurah Taas ini menyampaikan, dont threat the earth like a garbage, dont talk too much but give something action for a better world. (Ave 069/Uwin)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *