bener koran TAHUN INVESTASI ok (1) - Copy banner-kpu
ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Tentang Komunitas Punk di Kotamobagu (1)

Bagikan Artikel Ini:

ARUSUTARA.COM, KOTAMOBAGU – Fenomena Street Punk di Kotamobagu sebenarnya bukanlah hal baru. Jika di Manado, ada era kebangkitan komunitas Punk dan Skinhead, yang merujuk pada tahun 1999—atau setahun pasca tumbangnya rezim orde baru yang ditandai dengan kejatuhan Soeharto—, maka di Kotamobagu, puncak gerakan ini kian signifikan ditandai dengan berlangsungya Gig di Gedung Bobakidan pada tahun 2007.

Itu adalah  panggung musik mainstream berbentuk festival yang melibatkan band-band kawula muda Sulawesi Utara. Kotamobagu adalah tuan rumah Gig tersebut yang diselenggarakan dengan meriah.

Ketika itu, kelompok musik Marjinal beraliran Punk Rock yang berbasis di Jakarta dan dikenal pula dengan basecamp Taring Babi (semacam komunitas kerja kolektif yang berkecimpung dalam karya seni), kebetulan mengakhiri tour-nya di Manado. Pertengahan tahun 2007 itu, oleh komunitas Punk dan Skinhead asal Kotamobagu, Marjinal diajak ke Kotamobagu. Tujuannya adalah, selain bertemu komunitas sesama Punk di Kotamobagu, Marjinal diminta bisa tampil dalam sebuah Gig berbentuk festival musik, saat penutupan di malam final nanti.

Ajakan ini mendapat dukungan komunitas Punk dan komunitas Skinhead beraliran SHARP (Skinhead Againts Racial Prejudice) maupun anarko di Manado yang terdiri dari komunitas-komunitas yang sama dan tersebar dari Sangihe, Airmadidi, Bitung, Tomohon, Tondano, Langowan, Poopo Tanawangko, dan Manado sendiri.

Gayung bersambut. Bersama rombongan sesama komunitas dari Manado yang jumlahnya ratusan, Marjinal berangkat ke Kotamobagu dengan cara ba D.O alias numpang mobil pick up yang lewat. Dalam proses ba D.O, rombongan biasa pindah dari satu mobil  ke mobil lainnya hingga tiba di tempat tujuan.

Kehadiran Marjinal di Kotamobagu pada tahun 2007 itu, menjadi semacam perayaan dan penanda bagi komunitas Punk dan Skinhead  di Kotamobagu—yang mendapat dukungan dari komunitas Punk dan Skinhead di Manado—bahwa “Kami Ada!”.

Maka lahirlah embrio-embrio Punk yang baru, demikian pula Skinhead di Kotamobagu, meramaikan kehidupan subcultur dan eksistensi  gerakan komunitas Punk dan Skinhead.

Jika di era sebelumnya (1999 hingga 2000-an), Punk maupun Skinhead Kotamobagu, eksis bergabung di scene Manado, yakni di BRI Sarapung, Lorong Hitam, dan Gedung Joeang, maka  dalam perkembangannya di tahun 2008 dan 2009, komunitas di Kotamobagu mulai eksis membentuk scene di wilayahnya sendiri. Apalagi setelah Gig kedua kembali digelar di kampus UDK yang kembali menghadirkan Marjinal.

Selanjutnya Gig besar ketiga yang menarik perhatian semua scene tak hanya di Sulawesi Utara, berlangsung di Gedung Manggala Motoboi Kotamobagu. Tak tanggung-tanggung, selain menghadirkan Marjinal untuk yang ketiga kalinya, ikut hadir Steven artis reggae terkenal asal Ibukota pelantun Wellcome To My Paradise. Steven datang bersama kawan-kawan pengiringnya, Zion.

Tak hanya Marjinal dan Steven Zion (kini dikenal Steven Jam) yang didatangkan komunitas,  band Skinhead bernama The End yang berbasis di Jakarta pelantun Kelas Pekerja, turut hadir meramaikan Gig yang dihadiri tak hanya komunitas Punk, Skinhead, dan Reggae, melainkan komunitas Vespa dan kalangan umum yang terdiri dari para kawula muda.

Mula-mula scene (semacam tongkrongan kalangan terbatas) gabungan sesama komunitas Punk dan Skinhead beraliran SHARP dan Anarko di Kotamobagu, bermula di Taman Kota. Tak berlangsung lama, scene pindah di emperan Toko Roberta. Scene yang kedua ini dimotori komunitas Punk di scene Kampung Kramat, Moyag. Itu juga tak berlangsung lama hingga akhirnya scene gabungan Punk dan Skinhead, memilih di emperan Toko Sakura atau di depan Salon Diva. Ini adalah tempat yang saling berhadapan.

Saat scene Sakura dan Diva mulai eksis, komunitas Punk dan Skinhead Kotamobagu, sering didatangi kawan sesama komunitas dari berbagai daerah di Nusantara sebagai bentuk silahturasa dan silahturahim. Mereka datang dari Palembang, Jakarta, Malang, Makassar, Palopo, Palu, Luwuk, Gorontalo, dan lain-lain.

Scene Sakura juga pernah menggelar Gig yang berlangsung di SMA 2 Kotamobagu. Sebuah kebanggaan dan kehormatan tersendiri bagi komunitas Punk dan Skinhead Kotamobagu, karena pihak sekolah menerima dan membuka ruang seluas-luasnya. Sebuah Gig meriah yang berlangsung sejak sore hingga tengah malam di dalam sekolah. Gig itu berlangsung dengan tertib, aman, dan damai.

Punk dan Satpol PP

Di Kotamobagu, berita razia komunitas Punk mulai terjadi sejak tahun 2010. Puncaknya adalah tahun 2011. Alasan yang biasa kita temui dari pihak Satpol-PP, terutama yang mereka sampaikan ke  media massa adalah;   Satpol-PP menilai komunitas Punk itu meresahkan warga Kotamobagu. Oleh sebab itu mereka selalu menggelar razia pembubaran, setiap kali komunitas Punk nongkrong di scene. Pembaca bahkan sudah bisa menebak, diakhir berita media massa, biasanya Satpol-PP menyampaikan kalau komunitas Punk ini dibawa ke kantor untuk dibina.

Mungkin kita berpikir sejenak, apanya yang meresahkan? Warga mana yang resah? Seperti apa bentuk keresahan ini? Lalu setelah digaruk Satpol-PP ke kantor, pembinaan macam apa yang dilakukan? Siapa penanggung jawab yang melakukan pembinaan itu? Apa poin atau isi-isi pembinaan? Metode apa yang dipakai dalam pembinaan itu? Materinya siapa yang menyusun? Berapa jam dilakukan pembinaan? Bagaimana jika komunitas Punk itu menolak untuk mengikuti pembinaan? Apakah pembinaan ini diatur atau dianggarkan dalam APBD? Jika ada warga yang resah, kenapa Kepala Sekolah dan guru-guru di SMA 2 Kotamobagu justru santai, tidak resah, malah memberikan tempat kepada komunitas Punk untuk berkarya seni di dalam halaman sekolah hingga tengah malam buta, dan tak ada kejadian pengrusakan atau perkelahian terjadi di dalam?

Soal alasan penggarukan komunitas Punk oleh Satpol-PP, inilah yang sebenarnya yang membingungkan. Bagaimana mungkin ada orang yang lagi tidur di emperan toko subuh-subuh, justru dianggap melanggar hukum dan meresahkan warga. Oke, taruhlah ada warga memang yang resah, maka warga mana yang rela sibuk keluar rumah di subuh dingin hendak mencaritahu keberadaan komunitas Punk yang sedang lelap di atas beton-beton kota, lalu warga itu merasa resah kemudian pergi melapor ke kantor Satpol-PP lalu mengatakan; “Pak lapor, saya selaku warga Kotamobagu resah melihat keberadaan anak Punk yang tidur-tiduran di emperan toko,” lalu bersigaplah Satpol-PP ke scene atas laporan warga Kotamobagu yang alangkah resah dan gelisahnya itu. Ah, betapa kepo dan buang-buang umurnya melakukan itu. Tapi demikianlah kata Satpol-PP; warga Kotamobagu memang sudah resah dengan keberadaan komunitas Punk.

Lalu bagaimana dengan pemilik toko? Pembaca, jika Anda pernah sekali saja nongkrong bersama komunitas Punk di scene hingga pagi tiba, maka saksikan sendiri, sebelum pemilik toko bangun dari dengkur di kasur empuk dan buka toko, anak-anak komunitas Punk sudah duluan bangun, sembari membereskan sampah-sampah plastik (jika ada) di sekitar mereka tidur, lalu mereka kumpul dan buang ke tong sampah kemudian pergi meninggalkan scene. Sehingga pemilik toko tak pernah merasa terusik, resah, atau ketakutan tiap kali membuka toko karena ada anak Punk melakukan penodongan dengan senjata tajam untuk minta uang.

Lalu, jikapun masih sangsi, maka periksalah laporan di kantor polisi, atau kantor Satpol-PP. Adakah komunitas Punk di Kotamobagu pernah dilapor karena membuat onar? Semacam terlibat kejahatan seperti perampokan, pemalakan, perkelahian, atau tindakan kriminalitas lainnya seperti pemukulan? Ya, silakan periksa. Sebab paling banter yang akan Anda temui, rata-rata laporan (lebih banyak bukan laporan) adalah; mereka dibawa ke kantor Satpol-PP atau kantor polisi, karena mereka sedang nongkrong atau tidur-tiduran di emperan toko. Bersambung

BACA : Tentang Komunitas Punk di Kotamobagu (2/Habis)

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol

 

Bagikan Artikel Ini:
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *