ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Tentang Komunitas Punk di Kotamobagu (2/Habis)

Bagikan Artikel Ini:

ARUSUTARA. COM, KOTAMOBAGU – Dalam tulisan kedua ini (sambungan dari tulisan pertama), komunitas Punk di Kotamobagu bukan berarti diposisikan sebagai komunitas suci yang hanya punya track record seperti malaikat. Melainkan sedikit pengambaran untuk sekadar memberi pengantar atau secuil pemahaman kepada kita dalam mengenal apa itu Punk.

Tujuannya adalah, agar tidak ada pemahaman yang keliru di antara kita, khususnya warga Kotamobagu akibat miskinnya data tentang komunitas yang satu ini. Sebab kemiskinan data dan pengetahuan akan sesuatu, justru hanya membuat kita seperti orang bodoh atau sok tahu yang sebenarnya tidak tahu apa-apa soal apa yang sebenarnya ada di hadapan mata kita.

Kekeliruan atau bahkan kesesatan paham dalam memandang Punk dan komunitasnya, membuat  kita yang sedikitnya paham, terutama mereka yang melakoni kehidupan Punk cuma bisa mengelus dada ketika Punk hanya bisa diartikan sebagai kelompok pemuda berandalan dan anak jalanan pembuat onar.

Apa Itu PUNK?

Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) versi online, kata Punk diartikan sebagai pemuda yang ikut gerakan menentang masyarakat yang mapan, dengan menyatakannya lewat musik, gaya berpakaian, dan gaya rambut yang khas.

Secara etimologi sebagaimana kutipan di laman Wikipedia, tidak dijelaskan asal kata Punk dari mana. Namun dari komunitas Punk sendiri, oleh mereka istilah Punk sebenarnya merujuk pada sebuah karya Williams Shakespeares berjudul The Marriage of Lady Windsor. Disinilah sebenarnya kata Punk muncul pertama kalinya di Inggris.

Mula-mula Punk lahir di London Inggris pada awal 1970. Adalah sekelompok anak muda dari kalangan kelas pekerja yang resah dan marah dengan situasi sosial, politik, dan ekonomi ketika itu.

Kelompok ini muncul dengan penampilan khas. Band yang dikenal ketika itu sebagai gelombang kedua perkembangan Punk di antaranya  Sex Pistol dan The Clash. Dari segi politik, Punk adalah sebuah gerakan protes dari sekelompok anak muda yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara. Sementara dari bidang musik, Punk yang mengusung lirik-lirik protes terhadap negara, pemerintahan, atau represi aparat, membuat industri musik ketika itu menolak mereka untuk rekaman dan lebih memilih musisi rock seperti The Beatles atau Rolling Stone yang sudah mapan. Punk yang memainkan genre rock (kemudian dikenal dengan punk rock) dan kecewa dengan industri musik yang saat itu terus didominasi musisi rock mapan, akhirnya memilih untuk merekam lagu mereka sendiri dan dipasarkan mulai dari jalur komunitas.

Dari segi ideologi, Punk mengadopsi ideologi Anarkisme hasil pemikiran William GodwinPierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail Bakunin. Sebagai sebuah paham politik, anarkisme adalah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, sebab negara dinilai tak ubahnya organisasi diktator yang justru hanya dipakai sekelompok orang atau penguasa untuk menjalankan dominasinya yang memaksa.

Bagi kaum anarkis (penganut ideologi anarkisme), negara tak lain dipandang sebagai sebuah organisasi kediktatoran yang dipegang atau dikendalikan oleh suatu kelompok kecil untuk menindas kelompok besar sehingga harus diakhiri. Produk dari negara diktator ini (seperti  peraturan atau hukum), tak lain adalah sebuah bentuk pemaksaan, sehingga membatasi masyarakat (warga negara) untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kebebasan dan kemerdekaan dalam masyarakat, menurut pandangan Anarkisme, hanya dapat terjadi apabila negara dihapuskan.

Wikipedia menulis, kaum anarkis (penganut ideologi Anarkisme) berkeyakinan bila dominasi negara atas rakyat terhapuskan, hak untuk memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya manusia akan berkembang dengan sendirinya. Rakyat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.

Anarkisme, sebagaimana ideologi yang diadopsi Sex Pistol maupun The Clash (Band Punk), dipandang  mampu mengatasi segala persoalan dalam kehidupan.  Menurut pandangan kaum Punk yang mengadopsi Anarkisme, tidak ada seorangpun yang dianggap legal memaksakan kehendak atau keinginanya atas orang lain. Seseorang harusnya membebaskan kebebasan orang lain atau masing-masing individu untuk berkembang dan bertanggung jawab sesuai jalan pikiran dan kehendaknya sendiri maupun dalam komunitasnya.  Paham ini, jika dikaitkan dalam industri musik ketika itu, perusahaan rekaman seharunya memberi ruang kebebasan atas karya yang lahir dari Punk tanpa harus mendikte atau memberikan pengekangan atau pembatasan atas karya murni. Seandainyapun tidak bisa (penolakan), maka bukan berarti cita-cita itu tamat. Sebab  ideologi Anarkisme yang tak hanya dipandang kaum Punk sebagai ideologi politik semata, dianggap mampu memecahkan persoalan-persoalan. Sebagai contoh, ketika perusahaan rekaman menolak, maka kaum Punk dapat melakukannya sendiri dengan merekam karya mereka kemudian mendistribusikannya sendiri. Ini pulalah yang melahirkan konsep Do It Yourself (DIY) atau lakukan sendiri yang lahir dari semangat Punk.

Dalam perkembangan selanjutnya, Punk juga  merujuk pada jenis musik atau genre yang lahir awal 1970. Pada akhirnya Punk selain sudah menjadi gaya hidup, mencakup juga sebagai ideologi politik.

Dari Inggris, gerakan ini akhirnya merambah hingga ke benua Amerika. Kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang merosot di negeri Paman Sam ketika itu, dinilai terjadi akibat ulah para politisi. Punk dan anarkisme-nya akhirnya mendapat tempat. Tingkat pengangguran yang lahir, kekalahan atas Perang Vietnam, membuat gerakan Punk di Amerika tumbuh subur dengan lirik-lirik yang menyindir penguasa.

Punk juga dikenal dari segi  fashion. Mulai dari potongan rambut mohawk,  feathercut,  rantai dan spike, boots, jaket kulit, atau celana jeans ketat dan baju yang lusuh. Biasanya ditempeli banyak emblem atau bedge berisi/bertuliskan pandangan hidup, prinsip, dan tentu saja protes.

Fashion ini semacam penanda anti kemapanan. Ini sebenarnya bukan tanpa arti. Punk yang dikenal sebagai gerakan komunitas yang sarat protes, tak hanya melakukan pemberontakan bidang politik. Di bidang fashion, Punk sebenarnya menyindir industri mode atau fashion mainstream yang digandrungi masyarakat konsumtif terutama merujuk pada kaum muda. Fashion komunitas Punk selain merupakan karya seni yang melahirkan mode baru, merupakan sindiran bahwa tidak semua fashion atau mode yang lahir dari perancang busana mapan bergelimang harta, dianggap sebagai satu-satunya mode yang mendapat tempat atau wajib diterima dan diikuti masyarakat.

Fashion yang dilahirkan komunitas Punk sebagai karya, semacam pula sebuah pernyataan bahwa; inilah kami dengan mode kami. Tidak semua yang lahir adalah semata-mata dari perusahaan pakaian skala besar, rumah mode, atau sebagainya. Oleh sebab itulah, Punk dengan ide dan kreativitasnya, mampu merancang mode berupa kaos-kaos sablonan yang didistrubusikan sendiri.

Inilah  yang kemudian lahir sebagai Distro (Distribution Store) dan terus mengalami perkembangan hingga saat ini. Kalangan anak muda yang sebelumnya mengandrungi fashion bermerek buatan perusahaan besar semacam Levis atau Planet Surf, akhirnya bisa memilih pakaian di Distro atau yang didistribusikan sendiri oleh komunitas Punk. Konsep distribution store yang diusung Punk, merupakan pula bentuk perlawanan terhadap dominasi kapitalis di bidang fashion.

Scene Punk di Kotamobagu

Pada tulisan sebelumnya, sudah diceritakan soal scene Punk di Kotamobagu yang akhirnya sering menjadi sasaran razia aparat. Entah sudah berapa komunitas Punk yang tergaruk aparat saat mereka nongkrong di scene usai ngamen atau nongkrong sejenak setelah lelah nyablon kaos yang dijalankan secara home industry.

Benarkah warga Kotamobagu resah dengan kehadiran komuitas Punk? Sebagaimana yang pernah kita baca dalam pemberitaan media yang mengutip pihak Satpol-PP?

Pembaca, di Kotamobagu, ada warga yang sangat bersimpati dengan kehidupan komunitas Punk yang sering tergaruk aparat. Mereka yang membuka pintu rumah lebar-lebar untuk para Street Punk ini adalah keluarga Yamin Mokodompit (Papa Aswar) atau yang dikenal dengan sapaan akrab sebagai, Om Yamin.

Ini adalah sebuah rumah di Kelurahan Gogagoman atau di kompleks Pasar Ikan. Om Yamin dan Istrinya yang akrab juga disapa dengan Ma’ Nel atau biasa dipanggil Mama’ oleh para street Punk, ikhlas membuka diri dan menerima komunitas Punk di rumah mereka. Ada 15 hingga 20-an street Punk yang tinggal di rumah Om Yamin. Mereka tak hanya dari Kotamobagu dan Bolaang Mongondow. Melainkan datang dari berbagai daerah  seperti Gorontalo, Manado, Palopo, Palu, Makassar, dari Pulau Jawa dan daerah lainnya. Mereka juga tak terdiri dari kalangan laki-laki semata. Punk dari kalangan perempuan juga banyak.

Penerimaan ini dilakukan Om Yamin dan Ma’ Nel karena merasa prihatin, komunitas Punk yang nongkrong bahkan tidur di scene, sering menjadi korban aparat. Oleh sebab itu Om Yamin dan Ma’ Nel mengizinkan rumah mereka dijadikan scene karena scene Sakura dan Diva seringkali dirazia. Maka dari itulah muncul pula scene Kompas Ikan alias scene Pasar Ikan karena rumah atau scene ini berdekatan dengan Pasar Ikan.

Di rumah Om Yamin, mereka diberi kebebasan yang bertanggung-jawab. Bebas tidur, memasak, makan, mandi, dan sebagainya yang dikerjakan sendiri. Pintu rumah di scene Kompas Ikan situ tak pernah dikunci sebelum para street Punk pulang dan mengunci sendiri pintu dari dalam. Para street Punk ini merasa seperti diberikan sepenggal sorga dan perlindungan oleh Papa’ dan Mama’ (sebutan para street punk kepada Om Yamin dan Ma’ Nel). 

Bagi penulis sendiri, menceritakan keberadaan komunitas Punk, sebenarnya membutuhkan beratus-ratus halaman kertas, atau butuh ruang yang lebih lebar dan panjang untuk bertutur. Tetapi inilah sedikit kisah dalam mengambarkan mereka. Para pemuda yang resah, rebel, dan sebenarnya peka dengan persoalan bangsa ini yang mencakup kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi, bahkan psikologi. 

Jangan pernah menganggap remeh mereka yang ada di jalanan (street Punk). Sekadar catatan, dari komunitas Punk juga Skinhead di Kotamobagu, ada yang akhirnya memilih untuk “menjadi” sesuatu. Meski memang dari garis doktrin, ada perbedaan pendapat maupun pandangan yang bermunculan.

Dari komunitas ini tampilah sosok Rio Manuel Manoppo yang dalam perjalanan selanjutnya terjun ke dunia politik praktis dan terpilih sebagai Anggota DPRD Bolmong pada tahun 2009. Dari komunitas ini, lahir juga beberapa Jurnalis yang akhirnya bekerja dalam perusahaan Pers terbitan Sulawesi Utara, termasuk yang saat ini menjadi anggota dari AJI Gorontalo, Kristianto Galuwo. Dia pertama kali ikut gabung di scene Manado sekitaran tahun 2005 hingga 2006. Meski tak lama nongkrong di scene Manado karena harus eksis di scene Kotamobagu, Punker yang satu ini sekarang aktif sebagai Jurnalis Degorontalo.com.

Selain Jurnalis, ada juga dari scene Kotamobagu yang bekerja di Bank Mandiri. Dialah Herdiansyah Nurhamidin, yang pernah eksis dalam Band bernama Marhaen (gabungan Punk dan Skinhead Anarko dan SHARP). Meski akhirnya ia memilih berhenti belum lama ini. Selanjutnya, Delianto Bengga, seorang Skinhead dari Kotamobagu, yang akhirnya terpilih menjadi Sangadi (Kepala Desa) di kampungnya, Passi.

Mereka adalah orang-orang yang lahir dari scene. Sebuah scene yang jadi bulan-buanan aparat. Scene yang dinilai sebagai tongkrongan kaum berandalan dengan kehidupan dan cita-cita yang suram. Scene yang masih selalu dituding sebagai tempatnya orang-orang yang meresahkan masyarakat.

Selain mereka, masih ada banyak anggota komunitas di scene Kotamobagu yang tentu akan memakan ruang ketika penulis uraikan disini. Ada nama Endri Tanjung, Jojo Jois, Acel, Encu, Fitri, Aswar, Hendri, Rio, Ko’ Cicel, Abo, dan lain-lain. Dan yang paling spesial, adalah untuk mereka para penerus yang kini masih tetap eksis sekalipun hampir setiap kali tergaruk aparat dan bolak-balik ke kantor Satpol-PP maupun Polres Bolmong. (Salam Oi..Oi.. untuk kalian)

Sebagai penutup tulisan ini, ada satu hal yang mungkin lahir dari dalam benak kita dan ingin ditanyakan bersama, yakni; apakah komunitas Punk ataupun Skinhead di Kotamobagu, mengadopsi ideologi anarkisme? Untuk mengetahui atau menerima jawabannya, ada pepatah yang mengatakan; tak kenal maka tak sayang. Maka cobalah bergabung atau nongkrong dengan mereka. Niscaya Anda akan mendapat jawabannya sendiri.

Satu lagi yang perlu diketahui, tidak semua yang aparat garuk di pusat pertokoan Kotamobagu, adalah komunitas Punk. (TAMAT)

TULISAN SEBELUMNYA:

Tentang Komunitas Punk di Kotamobagu (1)

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol

 

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *