bener koran TAHUN INVESTASI ok (1) - Copy
ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Anies dan Ahok dalam Tafsir Keadilan

Bagikan Artikel Ini:


“Bagi kami perjalanan masih panjang, ikhtiar kita mengembalikan keadilan bagi warga Jakarta.” ~ Anies
“Kami harapkan lupakan semua persoalan kampanye dan pilkada, Jakarta rumah kita bersama.” ~ Ahok

Anies Rasyid Baswedan, berbicara dalam dua rentang waktu, masa depan (perjalanan masih panjang) dan sekaligus mengingatkan tentang kemarin (mengembalikan keadilan). Anies memahami secara realistis masa depan itu, bahwa sesungguhnya dia masih masih berdiri di garis start yang akan menjalani suatu perjalanan panjang.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok juga berbicara dalam dua orientasi waktu, hari kemarin yaitu lewat ajakannya untuk melupakan apa yang terjadi selama kampanye. Sekaligus juga dia berharap, Jakarta ‘akan’ tetap sebagai rumah bersama warga di ibu kota.

Keduanya juga sama-sama berbicara dalam idealisme keadilan. Anies yang masih berdiri di garis start memberi janji: “Ikhtiar kita mengembalikan keadilan bagi warga Jakarta”. Kemenangan dalam Pilkada, dalam kesadaran Anies belum sebagai bentuk keadilan, yang sekaligus ucapannya itu menyiratkan bahwa keadilan itu pernah hilang di Jakarta. Entah dia menunjuk di masa yang mana dan kepada siapa. Namun satu hal yang jelas, jualan isunya semasa kampanye menunjuk pada kepentingan sekelompok orang saja.

Ahok yang sudah mencapai garish finish pada etape pertama, namun gagal pada etape kedua, juga berbicara dalam semangat idealisme keadilan: “Jakarta adalah rumah kita bersama”. Itu makna keadilan ala Ahok. Sebagai rumah bersama, Jakarta harus melindungi semua warganya. Dia berbicara dalam posisi sebagai orang yang pernah berjuang keras untuk melayani warga Jakarta tanpa memandang latar belakang.

Namun, hal keadilan ketika ditafsir dalam konteks pertarungan kepentingan, ia dapat bermakna ganda. Warga Jakarta yang dipindahkan ke rumah susun dalam rangka penataan kota dapat ditafsir sebagai bentuk ketidakadilan, namun oleh pelaku kebijakan itu, memahami itulah keadilan.

Sebenarnya, warga yang mengalami itu yang paling tahu, tinggal di rumah kumuh kemudian pindah ke rumah susun, apakah adil atau tidak. Namun, suara dari warga tidak terdengar, hilang dieksploitasi untuk kepentingan menang dan berkuasa.

Keadilan di ranah ia sebagai idealisme, sebenarnya bermakna tegaknya hak yang dimiliki setiap orang. Hak hidup setara, hak hidup sejahtera, hak mengekspresikan keyakinan, hak dilayani sebagai warga negara, dan lain-lain. Namun, pembatasan atas hak-hak ini, yang dilakukan oleh pihak lain, juga atas nama memperjuangkan hak.

Anies mengatakan, ikhtiarnya adalah mengembalikan keadilan bagi warga Jakarta. Siapa warga Jakarta? Secara administrasi kependudukan jelas, yaitu semua orang yang memiliki KTP Jakarta. Lalu, siapa warga Jakarta yang keadilannya telah dirampas itu? Kelompok-kelompok yang dekat denganya selama kampanye jelas kategorinya, mereka adalah kelompok-kelompok tertentu yang mengklaim diri mewakili umat Islam. Apakah mereka itu yang dimaksud Anies?

Atas nama ‘keadilan’ dia mau memperjuangkan sekelompok orang yang berdasarkan kategori identitas tertentu di Jakarta. Sementara, sangat jelas, sebagai Ibu Kota Negara, warga Jakarta adalah orang-orang yang sangat beragam latar belakang agama, suku, ras dan budaya.

Ungkapan ‘Jakarta sebagai rumah bersama’ Ahok memang tidak langsung jelas dengan sendirinya. Abstrak. Ia tidak langsung dapat dimengerti apalagi dirasakan hanya dengan mendengarnya. Namun, warga Jakarta-lah yang paling mengerti secara kongkrit dan faktual makna rumah bersama itu, karena mereka hidup di rumah itu.

Selebihnya, agamalah yang mestinya diharapkan dapat memberi makna yang lebih tentang keadilan itu. Makna yang mestinya melampaui ambisi dan arogansi. Agama yang telah telah mendominasi dinamika politik pilkada Jakarta. Sayang, agama itu sendiri sama dengan keadilan, multi tafsir pula. Beragam tafsiran dapat muncul dari satu nama agama. 

Kali ini, agama telah ditafsir dengan pendekatan kuasa. Kekuasaan yang selalu berkecenderungan membutakan nalar dan nurani.

Penulis :
Denni Pinontoan

Penggiat Budaya, Jaringan Antar Iman IndonesiaPusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur

 

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *