ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Apa Yang Hilang di Pasar Pasca Idul Fitri?

Bagikan Artikel Ini:

ARUSUTARA.COM, KOTAMOBAGU – Apa salah satu bahan jenis kacang-kacangan yang hilang di pasaran pasca Idul Fitri? Bagi orang Mongondow pecinta Sup Brenebon, bersiap-siaplah kecewa sebab saat ini, di semua Pasar yang ada di Kotamobagu, tak ada satu-biji pun Brenebon yang ditemui. “Abis stok,” kata salah seorang pedagang di Pasar Serasi, saat ditemui awak ARUSUTARA.COM, Jumat 30 Juni 2017.

Hal yang sama ikut ditemui di Pasar 23 Maret. “Bulum ada stok, so abis dari malam takbir,” (belum ada stok, sudah tidak ada sejak dari malam takbiran), kata pedagang.

Tak hanya di Pasar Serasi dan Pasar 23 Maret, di Pasar Genggulang dan Poyowa, tak ada satupun kios pedagang yang menjajakan Brenebon. “Nyandak ada, disini memang jarang-jarang bajual brenebon. Itu hari ada karna somo dekat hari raya, mar so abis dari masih malam takbir,” kata rata-rata pedagang.

Demikian juga di Toko maupun Super Market terbesar di Kotamobagu, stok Brenebon masih kosong. Ambil contoh di Dragon Swalayan, Paris Super Store, Abdi Karya, maupun di Kios-kios besar. “Yaa, stok kosong. Bulum ada yang maso,” demikian jawaban yang rata-rata ditemui ke pemilik kios maupun karyawan super market.

Brenebon adalah sebutan bagi orang Sulawesi Utara, termasuk orang Mongondow, dalam menyebut Kacang Merah. Umumnya biasa digunakan untuk memasak Sup dari bahan tulang atau daging Sapi. Berbeda dengan di Minahasa atau di Manado, Sup Brenebon umumnya dimasak menggunakan tulang atau daging Babi.

Kacang merah besar adalah sejenis kacang dari jenis Phaseolus vulgaris. Sebutan dalam Bahasa Inggris dikenal dengan nama Red Kidney Bean.

Sup Brenebon  berasal dari pengaruh masakan Belanda yang diadopsi oleh masyarakat Sulawesi Utara. Termasuk di Kotamobagu atau Mongondow. penyebutan Brenebon, berdasarkan keterangan pada laman Wikipedia,  berasal dari Bahasa Belanda,  yaitu bruine bonen. Bruine berarti “warna coklat”, sedangkan bonen berarti “kacang”. Dalam khasanah Bahasa Indonesia, Brenebon disebut Kacang Merah, meski warnanya memang agak kecoklatan.

Dituturkan para pedagang di Pasar Serasi dan Pasar 23 Maret, Brenebon atau Kacang Merah, mereka peroleh dari pemasok yang datang dari Palu dan Makassar. 

“Brenebon cuma torang jaga dapa dari pemasok di Palu atau Makassar,” kata pedagang. Di pasaran, sebelum bulan ramadan, harga Brenebon bervariasi. Ada pedagang yang menjualnya Rp 20 ribu per kilo, ada juga yang Rp 21 per kilo. Harga ini kemudian naik menjadi Rp 25 ribu beberapa hari jelang Hari Raya Idul Fitri.

“Mungkin pemasok dari Palu deng Makassare masih ba hari raya, jadi stok brenebon di sini masih kosong,” tutur pedagang.

Saat ditanya, apakah Brenebon memang hanya di stok dari Palu dan Makassar, pedagang menyampaikan kalau  sebenarnya ada Brenebon lokal, dipasok dari beberapa wilayah di Sulawesi Utara. Namun kwalitasnya tidak baik. Selain kecil dan berbintik-bintik hitam, umumnya Brenebon lokal lebih keras meski sudah lama dimasak. Oleh sebab itu mereka lebih memilih mengambil dari pemasok asal Palu dan Makassar.

Hilangnya stok Brenebon di pasaran, melahirkan asumsi bahwa, Sup Brenebon adalah salah satu menu andalan warga Kotamobagu dan Bolaang Mongondow, saat Hari Raya Idul Fitri. (Uwin)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *