ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Ini Curhatan Vera Soal Larangan Pasar Senggol di Gogagoman

Bagikan Artikel Ini:

ARUSUTARA.COM, KOTAMOBAGU – Vera Mopangga, salah seorang pedagang kaki lima yang ikut dalam rombongan APKIL (Aliansi Pedagang Kaki Lima) dan Pemuda Gogagoman dalam Rapat Dengar Pendapat (hearing) di Kantor DPRD Kotamobagu, Selasa 13 Juni 2017, siang tadi, kepada awak ARUSUTARA.COM menyampaikan uneg-unegnya terkait keputusan Pemkot Kotamobagu terkait pemindahan lokasi bazzar ramadan atau dikenal dengan sebutan Pasar Senggol dari Kelurahan Gogagoman ke Desa Poyowa Kecil.

“Selaku pedagang, saya sangat menyayangkan keputusan pemerintah terkait SK pemindahan lokasi Pasar Senggol ke Poyowa Kecil. Ini adalah kerugian besar bagi kami selaku pedagang Pasar Senggol di Gogagoman, karena sudah puluhan tahun kami biasa berjualan, namun tiba-tiba dipindah dan kami tak diperbolehkan mendirikan lapak atau Pasar Senggol di Gogagoman,” kata Vera Mopangga, memelas.

Menanggapi alasan Pemkot yang berkembang dalam hearing, kalau pemindahan Pasar Senggol yang biasa digelar di Gogagoman ke Desa Poyowa Kecil, bertujuan sebagai pemerataan ekonomi dan promosi dalam rangka meramaikan pasar  di Poyowa Kecil,  Vera mengatakan, bagi mereka (pedagang di Gogagoman) hal itu memang wajar didukung, namun bukan dengan cara memindahkan lokasi Pasar Senggol ke Poyowa Kecil lalu melarang pendirian Pasar Senggol di Gogagoman.

“Kami mendukung niat Pemkot meramaikan pasar di Poyowa Kecil, tapi bukan dengan cara memindahkan tradisi Pasar Senggol dari Gogagoman ke Poyowa Kecil. Kasihan kami,  karena sudah puluhan tahun biasa menggelar tradisi Pasar Senggol di Gogagoman, namun sekarang dilarang. Jelas kami merasa dirugikan,” tukasnya.

“Tolonglah suara kami didengar. Kami ini bukan barang dagangan untuk dicoba-coba. Kami berharap pemerintah dapat mendengar keluhan kami selaku para pedangang. Kami tetap yakin, Ibu Wali Kota Kotamobagu dapat mendengar aspirasi kami ini,” pinta Vera.

Kepada awak media, Vera juga tanpa sungkan jujur mengakui, kalau dirinya dan beberapa kawan se-profesi yang biasa berjualan saat musim Pasar Senggol, sudah duluan meminjam uang kepada rekan bisnis, untuk diinvestasikan ketika Pasar Senggol mulai didirikan. Namun dirinya tiba-tiba khawatir ketika mengetahui ada keputusan yang melarang mereka membuka lapak Pasar Senggol di Gogagoman. Padahal menurut pedagang asal Gogagoman ini, ia sudah punya pengalaman selama 20-an tahun berjualan di Gogagoman dan merasa, saat musim Pasar Senggol dimulai, wilayah tersebut adalah wilayah paling strategis dan menguntungkan. Akan tetapi, ketika pindah di Poyowa Besar, harapannya tiba-tiba terganjal. Olehnya rasa khawatir tak dapat melunasi uang pinjaman, kini menghantuinya.

Jangan sampai, kata Vera, gara-gara mereka tak diperbolehkan mendirikan lapak di Gogagoman, akhirnya usai lebaran harus berurusan dengan polisi karena dilapor kreditor akibat tak dapat mengembalikan uang pinjaman.

“Kami sudah pinjam uang demi berjualan di Pasar Senggol Gogagoman. Nah, tiba-tiba ada keputusan larangan. Kasihan kami jika usai lebaran, harus berurusan dengan polisi gara-gara tak bisa mengembalikan uang pinjaman,” keluhnya. “Jadi tolonglah, dengarkan jerit hati kami. Semoga ada nurani terbuka sehingga kami diizinkan bisa mendirikan lapak di Gogagoman,” pinta dia lagi.

DPRD Kotamobagu akhirnya mengeluarkan rekomendasi resmi yang diteken semua fraksi di DPRD, terkait hasil rapat dengar pendapat (hearing) dengan Aliansi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) dan Pemuda Gogagoman yang dikomandani Sofyan Bede, terkait persoalan Pasar Senggol.

Dalam hearing tersebut, mencuat aspirasi dari APKLI dan Pemuda Gogagoman, agar Pemkot Kotamobagu tidak melarang pendirian Pasar Senggol di Gogagoman, ketika Pemkot memutuskan melalui SK Wali Kota Nomor 77 Tahun 2017, terkait lokasi Pasar Senggol yang ditetapkan berada di Desa Poyowa Kecil dalam musim ramadhan tahun ini.

Pihak APKLI menilai, pemindahan lokasi Pasar Senggol di Desa Poyowa Kecil adalah bentuk diskriminasi dan perampasan pendapatan Pemuda Gogagoman yang sudah 28 tahun ini mengelola tradisi Pasar Senggol setiap musim lebaran.

“Pemindahan lokasi Pasar Senggol ke Poyowa Kecil dan pelarangan pendirian Pasar Senggol di Gogagoman, kami nilai merupakan bentuk diskriminasi Pemkot terhadap warga Gogagoman yang sudah menjaga tradisi Pasar Senggol selama 28 tahun,” kata Sofyan.

Pendemo juga menyampaikan, mereka akan tetap mendirikan Pasar Senggol di wilayah Gogagoman karena banyak warga yang menggantungkan pendapatannya dalam pendirian Pasar Senggol.

Sementara itu, sejumlah fraksi di DPRD Kotamobagu bersepakat dan mengeluarkan rekomendasi usai menggelar hearing, yang pada pokoknya menyampaikan, keputusan Pemkot Kotamobagu yang tertuang dalam SK Wali Kota Nomor 77 Tahun 2017 tentang lokasi bazzar ramadhan atau pendirian Pasar Senggol di Desa Poyowa Kecil, tetap dihormati dan dijalankan. Namun demikian, karena keputusan tersebut menuai rasa protes dan rasa ketidak-adilan  di tingkatan masyarakat Gogagoman, maka DPRD akhirnya berkesimpulan dengan mengeluarkan rekomendasi dimana Pemkot diminta memperhatikan kondisi yang terjadi belakangan ini, dengan cara menampung aspirasi masyarakat Gogagoman, kemudian dapat memfasilitasi rencana pendirian Pasar Senggol di Gogagoman sebagaimana yang diinginkan kalangan masyarakat setempat.

“Jadi lokasi Pasar Senggol yang ditetapkan Pemkot, yakni di Poyowa Kecil, silakan tetap dijalankan. Namun demikian karena ini ada aspirasi dari masyarakat Gogagoman termasuk para pedagang kaki lima yang biasa berjualan pada musim labaran, maka Pemkot juga harus memperhatikan aspirasi tersebut dengan cara dapat pula memfasilitasi rencana masyarakat Gogagoman terkait pendirian Pasar Senggol di wilayah mereka,” urai Herry Coloay, Anggota DPRD dari Partai Gerindra melalui sambungan selular mewakili teman-temannya dalam hearing yang berlangsung, Selasa 13 Juni 2017, siang tadi. (Yudi)

BERITA TERKAIT :

1. Pasar Senggol Pindah, Pemuda Gogagoman Berdemo

2. Hanya Ada 1 Pasar Senggol, Jika Ada Yang Lain, Kami Bongkar!

3. Sahaya : Jangan Coba-coba Dirikan Pasar Senggol Tandingan

4. DPRD Keluarkan Rekomendasi Terkait Kisruh Pasar Senggol

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *